Minggu, 13 Mei 2012

Sajian Kuliner Tradisional Nan Inovatif Dari Aspartan Manjakan Pengunjung


Tidak kurang dari 20 stan berdiri berjejer di city walk Jl Slamet Riyadi depan Stadion R Maladi Sriwedari, Solo, Minggu (13/5/2012) pagi. Stan beratap tenda itu menaungi para pedagang yang menyajikan berbagai jenis makanan. Banyak di antaranya merupakan makanan tradisional yang sudah mulai sulit dicari.

Sate kere, balung kethek, tengkleng sapi, bakso jamur, hanyalah beberapa jenis makanan yang disajikan para pedagang, yang dari tulisan di atas tenda bisa diketahui merupakan anggota Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) itu. Ya, bazar itu memang digelar oleh Aspartan dengan tujuan mempromosikan kembali makanan tradisional atau makanan lain hasil kreasi bahan-bahan alami dan hasil bumi.

Pantauan Solopos.com, Minggu pagi, pengunjung bazar tersebut cukup ramai. Hampir setiap stan disesaki pengunjung. Salah satu pengunjung, Haryanto mengatakan beberapa makanan yang disajikan cukup membuat penasaran sehingga dirinya tergoda untuk mencobanya.

“Seperti tengkleng sapi ini. Biasanya tengkleng kan dari kambing. Tapi ini diganti sapi,” katanya, saat dijumpai Espos, di salah satu stan.

Makanan lain yang juga cukup menarik perhatian pengunjung adalah balung kethek yang dikreasi dengan bumbu super pedas. Pembuat balung kethek tersebut Aji Mujiono, 42, mengaku sengaja mengkreasi resep pedas balung kethek itu untuk menghadapi gempuran snack pedas dari luar, seperti keripik pedas Ma’Icih dan sejenisnya yang berpotensi menggeser camilan lokal.

Terpisah, Site Manager Aspartan, Isa Ansori mengatakan bazar yang diadakan setiap Minggu pagi itu sebenarnya merupakan ajang promosi produk-produk anggota Aspartan. Dimulai sebulan lalu, awalnya hanya diikuti tujuh pedagang. Tapi sekarang jumlahnya sudah meningkat jadi 20 pedagang dengan jenis makanan yang berbeda-beda.

“Salah satu syarat untuk bisa ikut bazar ini memang harus menyajikan produk makanan tradisional atau kreasi sendiri, dari bahan alami tanpa pengawet dan tidak boleh sama dengan pedagang lain,” jelas Isa.
Isa menambahkan acara itu juga hanya awalan untuk sebuah cita-cita, yakni memiliki stan penjualan tetap alias permanen. Tapi pihaknya masih kesulitan mencari tempat dan berharap Pemkot Solo bisa membantu. “Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun Solo minim lahan pertanian, warganya tetap bisa mandiri dalam hal produk makanan,” ujarnya.

Kamis, 03 Mei 2012

luweng Grubug, Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta

Sejumlah penelusur gua (caver) menikmati keindahan gua vertikal sedalam 90 meter di luweng Grubug, Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta, Senin (30/04/2012). Tempat wisata yang berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Yogyakarta tersebut menawarkan ekowisata dan petualangan yang terdiri dari hutan purba, gua vertikal Luweng Jomblang sedalam 60 meter, Luweng Grubug sedalam 90 meter, gua horisontal sejauh 300 meter, serta sungai bawah tanah.











Jumat, 27 April 2012

Weekend ... ? Ke SOLO aja


Penat di kantor, langsung saja “kabur” sejenak ke Solo di Jawa Tengah. Solo memiliki nuansa tenang nan romantis. Jika Anda di Jakarta,tak perlu pulang dulu ke rumah, tetapi arahkan Stasiun Gambir dan naik kereta api Argo Lawu yang berangkat jam delapan malam.


Sebelumnya, saat pergi ke kantor siapkan obat-obatan pribadi, peralatan mandi secukupnya seperti handuk dan sikat gigi, pakaian dalam, dan baju untuk dua hari saja. Masukan semua ini di dalam tas ransel.

Batasan barang yang akan dibawa adalah hanya menenuhi setengah dari kapasitas tas ransel. Peralatan mandi seperti sabun dan sebagainya bisa Anda peroleh dengan mudah di Solo maupun tersedia di hotel.

Baju kurang? Beli saja di pasar-pasar tradisional di Solo. Pilih kaus-kaus motif Batik sehingga bisa menjadi kenang-kenangan saat Anda pulang nanti.

Kereta api Argo Lawu berangkat dari Jakarta pukul delapan malam dan sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul empat pagi. Pastikan Anda tidur di sepanjang perjalanan tersebut, sehingga saat sampai di Solo, Anda siap menjelajahi kota cantik ini.

Sabtu. Sesampai di Solo, agenda pertama tentu saja mengisi perut terlebih dahulu. Jangan lupa cuci muka atau gosok gigi terlebih dahulu di toilet stasiun. Anda bisa sarapan nasi liwet yang gurih dan enak khas Solo di Keprabon. Atau, jika keburu bisa cari nasi liwet di Jalan Slamet Riyadi.

Setelah itu bisa mampir ke Keraton Kasunanan. Makin seru jika Anda berkeliling dengan becak atau Andong. Keraton Kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri sejak 1744 oleh Sunan Paku Buwono II.

Nuansa biru dan putih yang eksotis dari keraton tak hanya diburu sebagai tempat foto tetapi juga penggemar sejarah dan budaya Surakarta. Warna yang unik tersebut pertanda adanya perpaduan antara arsitektur Jawa dengan Eropa.

Masih dengan naik becak, jangan lupa mampir ke Balaikota. Wisata belanja juga menjadi agenda wajib saat bertandang ke Solo. Cukup singgah di Pasar Klewer untuk membeli aneka produk batik. Minta saja pada tukang becak untuk mengantar Anda ke pasar.

Lanjutkan dengan makan siang di area Pasar Klewer. Lepas makan siang Anda bisa check-in di hotel yang berada di seputaran Jalan Ahmad Yani atau Jalan Dr. Rajiman.

Harga hotel di Solo bervariatif sesuai bujet pelancong. Anda bisa memesan hotel sebelum datang. Jika datang bukan di musim liburan, maka langsung datang untuk check-in bisa-bisa saja. Di hotel, Anda bisa beristirahat sejenak. Sore hari mari jelajahi Solo kembali.
Sore Anda bisa mampir ke Kampung Laweyan untuk melihat langsung proses pembuatan batik. Anda pun bisa belajar sendiri pembuatan batik. Jangan lupa mampir ke rumah bekas juragan batik yang kini menjadi museum yaitu Museum H Samanhoedi.

Malamnya, bisa nongkrong di pasar malam Ngarsopuro yang menjual aneka kerajinan, oleh-oleh, dan makanan khas Solo. Letaknya di Jalan Diponegoro, Anda akan menemukan tenda-tenda yang menjual aneka produk khas Solo tersebut.

Apalagi, tepat sekali datang di Sabtu malam, sebab ada pentas seni tradisional maupun gabungan antara etnik dan modern yang digelar di tempat ini. Jangan kelamaan nongkrong, sebab besok Anda harus bangun pagi untuk melancong ke Tawangmangu.

Minggu. 

spesial tanggal 29 April ini ada SOLO MENARI 24 JAM 
Perhelatan akbar 'Solo Menari 24 Jam' kembali digelar di Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (29/4). Event tahunan ini akan dimeriahkan ribuan penari baik yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara. Mereka bakal menari bersama tanpa memandang asal daerah dan asal negara.

Arahkan perjalanan ke kecamatan Tawangmangu. Kecamatan ini sebenarnya sudah masuk kawasan lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Namun jaraknya bisa ditempuh sekitar 42 kilometer atau perjalanan selama sekitar 1,5 jam dari Solo.

Udara sejuk langsung terasa saat Anda berada di daerah ini. Seketika dapat menyegarkan kepala Anda. Sebenarnya ada banyak obyek wisata di daerah ini, terutama candi dan air terjun. Tetapi. Air terjun Grojogan Sewu adalah obyek wisata yang paling sering dikunjungi.

Siapkan stamina karena Anda harus menuruni anak tangga untuk mencapai air terjun. Sepanjang perjalanan terdapat saung-saung untuk beristirahat. Tak perlu heran saat berjalan Anda akan ditemani monyet-monyet.

Capainya berjalan kaki akan terbayar dengan pemandangan asri dari air terjun. Cipratan-cipratan air dari air terjun membuat suasanan semakin sejuk. Jangan lupa untuk mencicipi sate kelinci yang merupakan kuliner khas daerah ini.

Malam hari, saatnya kembali ke Jakarta. Anda bisa naik kereta api Argo Dwipangga yang berangkat pukul delapan malam. Sampai di Jakarta sekitar jam empat pagi. Jangan lupa untuk tidur sepanjang perjalanan, sebab dari stasiun Anda harus langsung ke kantor.

Jika kantor Anda memiliki fasilitas kamar mandi, maka hal tersebut akan memudahkan Anda. Sebaliknya, jika tak ada fasilitas tersebut, maka Anda harus pulang terlebih dahulu. Sampai di kantor, tubuh memang akan terasa capai, namun pikiran malah terasa segar. Tak percaya? Buktikan saja sendiri. 



Rabu, 21 Desember 2011

Gunung Merbabu


Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.


Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan.
Gunung Merbabu memiliki 3 tipe ekosistem hutan, yaitu : ekosistem hutan hujan tropis musim pengunungan bawah (1.000 - 1.500 m dpl), ekosistem hutan hujan tropis musim pegunungan tinggi (1.500 - 2.400 m dpl), dan ekosistem hutan tropis musim sub-alpin (2.400 - 3.142 m dpl).
PENDAKIAN

Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang mengembangkan fungsi pemanfaatan berkelanjutan, oleh karena itu pengembangan aktivitas wisata alam perlu dikelola dengan optimal untuk memberikan pengalaman memuaskan bagi pengunjung, namun tetap menjaga kualitas fungsi kawasan. Salah satu aktifitas wisata alam yg paling popular di TNGMb adalah pendakian ke puncak Gunung Merbabu.



Sepanjang tahun 2008 tercatat 752 pengunjung yang melakukan pendakian ke TNGMb (laporan Statistik BTGMb 2008). Jumlah pendaki meningkat tajam dan mencapai tingkat kulminasi keramaian pada setiap tanggal 17 Agustus. Berbagai aktifitas dilakukan oleh kelompok-kelompok pendaki dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia di puncak Gunung Merbabu.
Jalur pendakian yang paling  populer adalah Jalur Kopeng (Dusun Thekelan) dengan waktu tempuh sekitar 7-9 jam  dan Jalur Selo yang memerlukan waktu tempuh sekitar 6-7 jam.


Sejarah Kawasan
Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu sebelumnya merupakan Hutan Lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani dalam wilayah KPH Kedu Utara dan KPH Surakarta, dan Taman Wisata Alam (TWA) Tuk Songo yang merupakan salah satu kawasan konservasi dibawah pengelolaan Balai KSDA Jawa Tengah.

Kemudian pada tanggal 4 Mei 2004, kawasan tersebut berubah fungsi  dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 135/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Merbabu seluas ± 5.725 ha, yang terletak di Kabupaten Magelang, Semarang, dan Boyolali, Provinsi Jawa Tengah menjadi Taman Nasional  Gunung Merbabu.
Secara geografis kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu terletak pada koordinat 110026'22" BT dan 7027'13" LS. Secara administrati, kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu terletak di 3 kabupaten, yaitu : Kabupaten Magelang, seluas 2.160 ha, Kabupaten Semarang, seluas 1.150 ha, Kabupaten Boyolali, seluas 2.415 ha.
Sejarah Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Sebelum  ditunjuk Kapala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu definitif, untuk sementara pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor :SK.140/IV/Set-3/2004 tanggal 30 Desember 2005 tentang Penunjukan Pengelola Taman Nasional kayan Mentarang, Lorentz, Manupeu-Tanah Daru, Laiwangi – Wanggameti, Danau Sentarum, Bukit Duabelas, Sembilang,  Batang Gadis, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Tesso Nilo, Aketajawe – Lolobata, Bantimurung – Bulusarung, Kepulauan Togean, Sebangau dan Gunung Ceremai.   
Kemudian pada tahun 2007 telah dibentuk satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Taman Nasional Gunung Merbabu berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Februari 2007, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksanaan Teknis Taman Nasional.
Balai  Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan UPT di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam  (PHKA) Kementrian Kehutanan RI. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu mulai aktif melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) organisasi mulai bulan April 2007.

Rabu, 23 November 2011

Tawangmangu

Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kecamatan ini ternama karena merupakan daerah wisata yang sangat sejuk.
Tawangmangu dikenal sebagai obyek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Surakarta (Solo). Tempat ini sejak masa kolonial Belanda telah menjadi tempat berwisata. Obyek tujuan wisata utama adalah air terjun Grojogan Sewu (tinggi 81 m). Di tempat tetirah ini tersedia berbagai sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan. Dari Tawangmangu dapat dimulai pendakian ke puncak Gunung Lawu (Pos Cemorokandang). Selain itu, dari sini terdapat jalan tembus yang menuju ke Telaga Sarangan di Magetan lewat Cemorosewu.
Tawangmangu berada pada arel pegunungan yang subur dikelilingi oleh hutan dan perbukitan. Namun demikian kota kecil ini telah terkenal hingga ke manca negara karena kawasan ini merupakan obyek pariwisata yang cocok untuk dijadikan pilihan saat berlibur maupun berdarma wisata.
Selain udaranya yang sejuk, keindahan alam di sekitarnya tidak kalah menarik dengan kawasan lain di indonesia, terlebih lagi didaerah ini terkenal dengan produksi pertanian penghasil sayur mayur selain dari keberadaan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu. Tawangmangu sendiri telah menjadi pilihan bagi orang-orang perkotaan untuk membangun villa-villa, maupun berinvestasi dengan mendirikan hotel-hotel & penginapan.
Untuk mendukung kemudahan dalam mengakses daerah ini, pemerintah telah mengusahakan perbaikan jalur transportasi dengan melakukan perawatan jalan dan pembangunan jalan baru lintas propinsi dari Tawangmangu sendiri yang berada di Jawa Tengah ke arah Magetan Jawa Timur. Dan sampai dengan saat proses pembangunan jalan masih terus berlangsung melewati perbukitan dan melintas di tengah-tengah lahan pertanian yang asri dengan pemandangan elok di kiri dan kanan sepanjang jalan baru ini. Selain pembangunan jalan, pemerintah juga telah melakukan Rebuilding secara total Pasar Tawangmangu yang tadinya berupa pasar tradisional yang kumuh, kini telah berupa bangunan megah Pasar Wisata, diharapkan dengan rehabilitasi pasar ini para wisatawan yang datang ke Tawangmangu dapat dengan mudah dan leluasa untuk berbelanja segala macam jenis oleh-oleh, maupun hasil bumi dengan lebih nyaman. Untuk itu jangan lewatkan kesempatan anda untuk berkunjung ke Tawangmangu. Ada beberapa lokasi yang sering menjadi lokasi tujuan wisatawan domestic maupun mancanegara, baik yang ada di Kecamatan Tawangmangu sendiri maupun daerah lain di sekitarnya yang dekat dapat diakses dari Tawangmangu, yaitu :
  1.  Grojogan Sewu merupakan salah satu air terjun yang berada di Jawa Tengah. Terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Air terjun Grojogan Sewu terletak di lereng Gunung Lawu. Grojogan Sewu terletak sekitar 27 km di sebelah timur Kota Karanganyar. Air terjun Grojogan Sewu merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu. Grojogan Sewu berarti air terjun seribu. Meski air terjun di sini tidak berjumlah seribu, tetapi ada beberapa titik air terjun yang dapat dinikmati di sini. Air terjun tertinggi yang ada tingginya sekitar 80 meter. Ada pula air terjun yang tidak terlalu tinggi tetapi pancurannya meluas dan membentuk cabang-cabang. Bila sedang musim hujan, sekeliling tebing akan dihujani air terjun, tetapi saat musim panas, banyak air terjun yang kering.
    Hutan Wisata Grojogan Sewu memiliki luas 20 Ha. Kawasan hutan ini banyak ditumbuhi berbagai jenis pohon hutan dan dihuni oleh sekelompok kera jinak. Beberapa fasilitas dari hutan wisata ini adalah Taman Binatang Hutan, kolam renang, tempat istirahat, kios makanan, kios buah-buahan dan cinderamata, mushola dan MCK.
                                    
  2. Air Terjun Pringgodani adalah salah satu air terjun yang berada di kecamatan Tawangmangu, Indonesia, tepatnya berada di desa blumbang. Akses transportasi dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum dari Terminal Tawangmangu dengan jarak 5 km. Setelah turun di gapura "mbok lastri" perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki kurang lebih sejauh 2km. sebenarnya pringgodani lebih sebagai obyek religi bagi penganut aliran kepercayaan,tapi di sisi lain air terjun tersebut juga menawarkan keindahan, dengan 2 tingkat air terjun serta tinggi lebih dari 100 m, air terjun ini jauh lebih tinggi dan lebih spektakular dari pada Air Terjun Grojogan Sewu yang lebih dulu dikenal.                                                    

Senin, 21 November 2011

Taman sekartaji















Ditengah-tengah banyaknya tempat untuk bersantai di kota Solo, Taman Sekartaji hadir dan menjadi alternatif baru bagi masyarakat kota Solo dan sekitarnya, untuk sekedar bersantai sejenak sembari menikmati pemandangan.
Taman Sekartaji yang terletak persis dipinggiran kali Anyar, Jebres, atau perempatan Rumah Sakit dr. Oen Kandang sapi ini, memberikan kesan yang sangat eksklusif dan lain jika dibandingkan dengan tempat-tempat untuk bersantai di kota Solo seperti : Stadion Manahan, kompleks Windujenar, taman Balekambang, ataupun kawasan City Walk Slamet Riyadhi. Akan tetapi Taman Sekartaji jauh berbeda dengan tempat-tempat santai lainnya di Solo
Taman yang diresmikan oleh walikota Surakarta Jokowi pada tanggal 20 Februari 2009 Ini dapat dikatakan berbeda karena Taman Sekartaji berada di pinggiran sungai atau bantaran sungai kali Anyar, di kawasan Mojosongo, Jebres, Surakarta. Melihat konsep fisik taman yang begitu dekan dengan bibir sungai, semakin menguatkan keberadaan tempat ini untuk dijadikan tempat yang sangat cocok untuk bersantai atau beristirahat sejenak sembari melihat derasnya aliran sungai Kali Anyar yang mengalir menuju sungai Bengawan Solo.
Dengan dibangunnya Taman Sekartaji oleh Pemerintah Kota Surakarta, diharapkan untuk Masyarakat kota Solo pada umumnya, untuk semakin peduli dengan lingkungan sekitar termasuk di kawasan bantaran sungai Kali Anyar ini, yang pada mulanya tidak terawat dan mengandung resiko bencana yang tinggi pada akhirnya disulap menjadi sebuah tempat multifungsi yang tentunya memiliki manfaat bagi warga Surakarta.

Minggu, 20 November 2011

Candi Cetho

Candi Cetho (ejaan bahasa Jawa: cethå) merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.
Sampai saat ini, komplek candi digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa/Kejawen.

Susunan bangunan

Gapura Candi Cetho
Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada empat belas dataran bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras membuat munculnya dugaan akan kebangkitan kembali kultur asli ("punden berundak") pada masa itu, yang disintesis dengan agama Hindu. Dugaan ini diperkuat dengan bentuk tubuh pada relief seperti wayang kulit, yang mirip dengan penggambaran di Candi Sukuh.
Pemugaran yang dilakukan oleh Humardani, asisten pribadi Suharto, pada akhir 1970-an mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru hasil pemugaran adalah gapura megah di muka, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.
Selanjutnya, Bupati Karanganyar, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi.
Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.
Pada aras ketiga terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern.
Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah satu orang) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.
Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut "kuntobimo") di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di dekat bangunan candi, dengan menuruni lereng yang terjal, ditemukan lagi sebuah kompleks bangunan candi yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Kethek ("Candi Kera")